
Diangkat dari buku “Ya Allah aku jatuh cinta”
Cinta itu tidak abadi. Nah, itulah kabar mutakhir tentang cinta. Kesimpulan yang amat “berani” itu berhasil ditemukan oleh seorang Antropolog asal AS, Helen Fisher, setelah melakukan penelitian selama bertahun-tahun. Tapi, mungkinkah cinta bisa diutak-atik seanalitis itu, bahkan sempat-sempatnya dibahas dari segi kimia dan sosial segala, padahal bagi banyak orang cinta identik dengan sebuah benda misterius? Cinta, meskipun bisa dirasakan, konon sangat tidak mudah dimengerti. Ia bisa meluapkan kebahagiaan sekaligus kesengsaraan. Bisa menciptakan kebebasan namun bisa juga membuat manusia bagaikan seorang tawanan.
Jadi, kalau memang bisa diteliti secara ilmiah, cinta itu sebetulnya apa sih? Teori tentang cinta pernah populer 5-6 tahun yang lalu. Tepatnya ketika pendekatan ilmu faal tentang tubuh manusia menjadi populer. Selanjutnya, teori ini kian berkembang dan mulai dihubung-hubungkan dengan bidang ilmu lainnya. Belakangan, ada juga teori cinta dengan pendekatan bioneorologi yang melihat, membandingkan dan mengamati struktur otak orang gila, misalnya atau Psikofisiologi yang mempelajari kaitan antara perilaku manusia dan pengaruh hormon pada tubuhnya. Cinta sebenarnya sama dengan emosi. Kalau emosi seringkali ditentukan oleh sejumlah hormon (terutama dalam siklus menstruasi), maka hal yang sama juga berlaku dalam proses jatuh cinta. Terutama ketika terjadi cinta pada pandangan pertama, ada getaran dalam tubuh. Tapi, Apakah iya, gelora cinta semata-mata ditentukan oleh hormon dalam tubuh?
Diene lie-seorang psikolog sekaligus peneliti ulet pada sebuah universitas di Beijing membeberkan, meskipun urusan cinta bisa dijelaskan secara kimiawi, namun kecamuk cinta tidak semata-mata hanya ditentukan oleh aktivitas hormon dan manusia tidak berdaya mengatasinya, juga tidak selalu berarti bila kadar hormon berkurang berarti getarannya pun berkurang.
Memang, pemacu semburan cinta (PEA) tadi memiliki pengaruh kerja yang tidak tahan lama kelamaan, tubuh pun bagaikan imun, ‘kebal’ terhadap si pemicu gelora.
Akan tetapi, sekali lagi masih menurut Diane, proses jatuh cinta itu tidak semata-mata hanya dipengaruhi hormon dengan reaksi kimiawinya. Apalagi dalam proses orang pacaran hingga menikah. Banyak faktor sosial lainnya yang menentukan. Contohnya proses jatuh cinta versi “tresno jalaran soko kulino” (datangnya cinta karena pertemuan yang berulang-ulang). Demikian pula ketika kita marah dan ingin membentak orang lain, hormon memang punya pengaruh khusus, namun tetap ada faktor lain yang ikut menentukan.
Manusia merupakan makhluk yang paling kompleks. Jika proses reaksi kimia terjadi pada hewan, barulah teori rendahnya daya tahan PEA ini bisa dipercaya. Jadi, teori Helen Fisher yang disebut four yearsitch juga bisa dimentahkan. Pendeknya, teori PEA dilandaskan pada pendekatan ilmu eksakta, sedangkan teori four years itch yang dilingkup penelitiannya mencakup 62 jenis kultur ini lebih menggunakan pendekatan sosial.
Fischer, yang juga penulis buku “Anatomy of love” menemukan betapa kasus perceraian mencapai puncaknya ketika usia perkawinan mencapai usia 4 tahun, kalaupun masa 4 tahun itu terlalui, katanya kemungkinan itu berkat hadirnya anak kedua. Kondisi ini membuat perkawinan mereka bisa bertahan hingga 4 tahun lebih.
Nah, kalau main hitung-hitungan, rasanya seru juga. Misalnya, masa pacaran telah dilalui 2 tahun, berarti kesempatan untuk bisa mempertahankan gelora cinta hanya ada di tahun pertama perkawinan. Lalu apa yang terjadi ketika masa perkawinan menginjak tahun kedua, ketiga, dan seterusnya? Cuma ada sisa-sisa atau bahkan punah sama sekali. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengalami masa pacaran lebih dari 6 tahun?
Menurut pandangan Diane, dalam hubungan suami-istri atau pacaran, selain cinta ada hubungan lain yang sifatnya friendship, pertemanan. Kalau setelah beberapa waktu cinta itumenipis, mungkin karena tersisihkan hal-hal lain, misalnya karena rutinitas yang itu-itu juga, lalu segalanya jadi terasa membosankan.
Kakek-nenek dapat hidup rukun sampai mereka berusia lanjut juga karena senyawa kimia. Namanya oksitosin. Menurut penelitian, kesetiaan pada pasangan berhubungan dengan kadar oksitosin yang tinggi. Kadar oksitosin ini dapat ditingkatkan dengan cara masing-masing dari pasangan yang berusaha sering menyayangi. Walau kadang pasangannya menjengkelkan. Itu barangkali inti nasihat orangtua “cinta tumbuh karena biasa”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar